Inilah Wanita yang Doanya Mampu Tembus Langit Ketujuh

loading...
loading...

Kisah ini terjadi pada masa kenasiban Nabi Muhammad SAW. Salah seorang wanita dengan tingkat keimanan tinggi datang menemui Manusia kecintaan Allah ini. Ia menghadapi satu kondisi yang mengharuskannya memperoleh pencerahan.

Tetapi nyatanya, kala itu Nabi belum bisa menjawab sebab belum ada wahyu yang diturunkan Allah terkait faktor itu. Tetapi, ini tidak lantas membikin si wanita menyerah, Ia berdoa dan memohon terhadap Allah supaya memberi jalan keluar atas perpersoalanan nasibnya.

Nyatanya doa ini langsung dihijabah Allah. Seketika Nabi menerima Surat Al-Mujadalah jadi bisa menjawab perpersoalanan wanita tersebut. Siapa dirinya sebetulnya? Mengapa doanya bisa menembus langit ke tujuh dengan demikian cepat?

Nama lengkap wanita ini adalah Khaulah binti Tsa’labah bin Ashram bin Farah bin Tsa’labah Ghanam bin ‘Auf. Ia adalah istri dari Aus bin Shamit bin Qais dan dari pernikahan mereka lahir seorang putra yang diberi nama Rabi’.

Kisah saat doanya yang sanggup menembus langit ini bermula ketika terjadi perpersoalanan antara dirinya dan suaminya. Dalam kondisi marah, sang suami kemudian mengeluarkan kalimat yang membikinnya merasa cemas dan butuh memperjelasnya terhadap Nabi.

Kalimat yang dilontarkan suaminya tersebut adalah “Bagiku engkau ini semacam punggung ibuku”. Walau seusai itu suaminya berlalu berangkat bersama sahabat-sahabatnya, tetapi tidak dan merta membikin Khaulah melupakan perkataan tersebut begitu saja.

Baginya perkataan tersebut semacam talak dari sang suami terhadap dirinya. Sepulangnya dari berkumpul dari sahabatnya, sang suami kemudian mengharapkan hubungan suami istri dengan Khaulah.

Tetapi, Khaulah menolak sebab perasaannya yang begitu tidak bisa menerima atas ucapan Aus sang suami. Khaulah mengatakan, “Tidak… jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku sebab engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkan terhadapku jadi Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum mengenai momen yang menimpa kita.”

Seusai momen tersebut, Khaulah kemudian menemui Rasulullah SAW. Ia pun menceritakan kejadian yang dialaminya terhadap sang Nabi. Ia berharap Nabi memberbagi pencerahan terhadap apa yang telah dialami. Tetapi, Ia harus sedih, pasalnya pada masa itu, belum ada kejadian yang dihadapi umat dan baru Khaulah yang mengalaminya. Jadi belum turun firman Allah yang membahas mengenai faktor ini.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kami belum sempat memperoleh perintah berkenaan urusanmu tersebut … aku tidak menonton melainkan engkau telah haram baginya.”

Ini artinya, hubungan mereka telah tidak diperbolehkan lagi. Tetapi, hati kecil Khaulah pun tetap bergejolak, mengingat apabila Ia berpisah dengan sang suami, maka bakal susah baginya mengnasibi diri dan anaknya Rabi’. Tetapi Rasulullah Shalalahu ‘alaihi wasallam tetap menjawab, “Aku tidak menonton melainkan engkau telah haram baginya.”

Seusai momen ini, wanita tersebut semakin berdoa memohon terhadap Allah supaya memberi petunjuk terkait perpersoalanannya. Kedua matanya meneteskan air mata dan perasaan rugi. Tiada henti-hentinya Ia berdoa ini berdo’a yang kemudian dikabulkan Allah.

“Yaa Allah sesungguhnya aku memperlawankan kepada-Mu mengenai momen yang menimpa diriku.”.

Nyatanya doa ini dihijabah Allah. Rasulullah SAW seketika pingsan semacam biasa saat menerima wahyu. Kemudian seusai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sadar kembali, beliau bersabda, “Wahai Khaulah, sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan ayat Al-Qur’an mengenai dirimu dan suamimu, kemudian beliau membaca firman QS. Al-Mujadalah: 1-4, yang artinya:

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan terhadap kalian mengenai suaminya, dan melaporkan (halnya) terhadap Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kalian berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Menonton.”

Orang-orang yang menzhihar (menganggap isterinya sebagai ibunya, alias menyamakan istrinya dengan ibunya sebagaimana ucapan Aus di alinea kedua di atas, Red) isterinya di antara kalian padahal tiadalah isteri mereka itu bunda mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan sebuahperkataan yang munkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.

Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak hebat kembali apa yang mereka ucapkan, maka (harus atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan terhadap kamu, dan Allah Maha Mengenal apa yang kalian kerjakan.

Maka barangsiapa yang tidak memperoleh (budak), maka (harus atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (haruslah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kalian beriman terhadap Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. (QS. Al-Mujadilah : 1-4)

Seusai turun ayat ini, barulah Rasulullah SAW bisa membahas perihal perpersoalanan yang dihadapi Khaulah. Tuan Rasulullah SAW kemudian membahas terhadap Khaulah mengenai kafarat (tebusan) Zhihar:

Nabi SAW: “Perintahkan kepadanya (suami Khaulah) untuk memerdekakan seorang budak!”

Khaulah: “Ya Rasulullah dirinya tidak mempunyai seorang budak yang bisa dirinya merdekakan.”

Nabi SAW: “Apabila demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulan berturut-turut.”

Khaulah: “Demi Allah dirinya adalah laki-laki yang tidak kuat meperbuat shaum.”

Nabi SAW: “Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma setidak sedikit 60 orang miskin.”

Khaulah: “Demi Allah ya Rasulullah dirinya tidak mempunyainya.”

Nabi SAW: “Aku bantu dengan separuhnya.”

Khaulah: “Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah.”

Nabi SAW: “Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bertemanlah dengan anak pamanmu itu dengan cara baik.”
loading...
Loading...
loading...
close