Inilah Cara Membuka Pintu Rezeki dengan Efektif

loading...
loading...

Kajian Khazanah Islam (Katagori Mu’amalah)
Pembaca budiman, Rahmat dan Bimbingan-Nya semoga selau teriring terhadap kami dalam segala aktivitas di dunia ini dalam rangka meraih ketersanjungan dan mengharap Ridho-Nya di Akhirat kelak. Aamiin…

Rasiyambumen.com. mempost sebuah postingan : Tutorial Membuka Pintu Rezeki dengan Manjur. Manusia diciptakan Allah merupakan semata untuk berbakti kepadaNya. Bahwa manusia dengan cara fitrah merupakan sebagai makhluk individu dan sekaligus sebagai makhluk sosial.

Maka telah barang pasti interaksi antar mereka pasti bakal didapati kegiatan-kegiatan dalam pemenuhan hajat nasibnya untuk melangsungkan kenasiban di dunia ini hingga mencapai ketersanjungn dengan cara utuh, sebanding antara dunia dan akhirat. Allah SWT telah memberbagi peluang seluas-luasnya terhadap manusia untuk mengais rezeki di atas bumi ini, pastinya dengan cara-cara yang benar dan jujur.

Terkait judul di atas, Tutorial membuka pintu rizeki dengan manjur, maka Islam telah memberbagi contoh bagaima tutorial untuk memperoleh rezeki dengan manjur dan cocok guna. Ketika Raulullah baru saja tiba dalam hijrahnya di Yatsrib (sekarang Madinah), pertama yang didirikan merupakan sebuah Masjid dalam rangka tempat mengabdikan diri terhadap Allah SWT. dan masjid ini bukan hanya sekedar dipakai untuk bershalat dan berdoa saja, namun seluruh kegitan di pusatkan di Masjid dan tidak luput masjid juga sebagai tempat berdagang saat itu.

Seiring dengan perkembangan kebudayaaan zaman maka perniagaan mulai dipindahkan ke pasar. Saat itu Rasulullah SAW. memerintahkan terhadap sahabat untuk mulai berdagang di pasar, dekat dengan pasar umat Yahudi yang telah menguasai pasar di Madinah bertahun-tahun. Abdurrahman Bin Auf seorang hartawan kaya raya seantero Madinah, untuk mengawali berdagang di sebelah pasar Yahudi.

Utsman bin Affan ditugaskan untuk mencari sumber air dalam rangka pemenuhan kaum muhajirin dan anshar yang terbukti tidak mempunyai sumber air, dan rutin membeli air terhadap seorang Yahudi yang menguasai sumur-sumur yang memilki air dengan baik dan dengan jumlah yang tidak sedikit.

Kedua Pejuang Islam ini, Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan mulai kiprahnya jadi perekonomian Madinah dengan kepemimpinan Nabi SAW, sebagai Rasul dan sekaligus kepala negara, dlam waktu yang relatif singkat, akhirnya bisa dikuasai oleh umat Islam yang semula seluruh sektor ekonomi dikuasai oleh Yahudi. Dan akhirnya sektor ekonomi yahudi menjadi kalah tersaing, dengan tutorial etika yang elegan dalam persaingannya.

Sebab tidak ada yang lain andalan bagi sosok pedagang pasti untuk mengambil keuntungan. Dan saat kentungan didapat dengan berlimpah ruah, disitulah letak ujian diberbagi. Apakah kami hendak menjadi insan penuh dengan rasa syukur hingga bakal bertambah kekayaanya, alias kami yang bakal diancam dengan nikmat kufurnya?.

Semua opsi itu bisa dengan mudah diputuskan apabila seseorang paham bagaimana letak sebuah kekayaan. Bagi orang beriman kekayaan alias materi merupakan sarana. Apabila dengannya dakwah bisa berlangsung, maka kekayaan tersebut merupakan sebuah kebaikan. Dan apabila dengan kekayaan itu hati tertawan, maka maka kekayaan tersebut wajib dilepaskan.

Bagi orang beriman kekayaan hanya diletakkan di tangan. Ia tidak hingga merasuk dalam hati dan obsesi. Kedudukannya tidak lebih dari sekedar sarana. Sarana yang bisa berubah-ubah. Sebuahpeluang mungkin kekayaan menjadi sarana manjur, di lain peluang bisa jadi kekayaan jadi saran yang membahayakan.

Ada sebuah kisah seseorang di zaman kekhalifaan Umar bin Khattab, bernama Shuhaib, imannya lebih tinggi dibanding dengan semua harta kekayaannya. Kadang kami butuh mngeryitkan dahi kala kotak infak mampir, sementara ada dua lembar Rp 20 ribuan terselip manis. Sementara di lain waktu amat mudah merogoh ratusan ribu demi sepatu model terakhir, saat koleksi sepatu di rumah telah menggunung.

Pemahaman yang utuh atas kekayaan itulah yang wajib tertanam terhadap kami umat Muslim. Saat orang beriman menyadari hakikat harta, maka yang tercipta merupakan sebuah keindahan dalam beramal alias berinfaq.

Semacam yang telah dicontohkan Shuhaib. Kisah kepahlawanannya selain berhenti disitu. Shuhaib merupakan seorang peterjangkau dan dermawan. Beliau merupakan seorang pekerja di salah satu Baitul Mal. di kota Madinah. Tunjangan yang diperolehnya dari Baitul Mal tersebut dibelanjakan semuanya di jalan Allah.

Tak mampir sedikitpun harta yang ia peroleh melainkan habis untuk menolong orang yang kemalangan dan menolong fakir miskin. Amalnya hanya untuk menerapkan firman Allah SWT, “Dan diberbaginya makanan yang ia sukainya terhadap orang miskin, anak yatim dan orang tawanan” (QS Al-Insan : 8)

Sampai-sampai keterjangkauannya yang amat sangat itu mengajak peringatan dari Umar bin Khattab r.a. Umar mengatakan terhadap Shuhaib, “Saya lihat kalian tidak sedikit sekali mendermakan harta dan makanan hingga melalui batas!”.

Shuhaib dengan lembut menjawab, “Sebab aku sempat mendengar Rasulullah bersabda : “Sebaik-baik kalian ialah yang suka memberi makanan”.

Sumber : Kajianislam
loading...
Loading...
loading...
close