7 Ciri – Ciri Orang Yang Tidak Ikhlas Dalam Beribadah Kepada Allah SWT

loading...
loading...

Ikhlas adalah salah satu piranti awal dalam beribadah terhadap Allah SWT seusai niat. Sebab ikhlas adalah salah satu syarat penting diterimanya amal ibadah kami oleh Allah SWT. Ikhlas bisa kami artikan bahwa ikhlas adalah meniatkan segala apa yang kami lakukan semata-mata hanya sebab Allah SWT demi mengharap ridho-Nya.

Sedemiki4n jadi yang dim4ksud dengan ikhl4s dalam beribad4h adalah meniatk4n segala macm ibad4h yang dilakuk4n semata-mat4 hanya seb4b Allah SWT demi menghar4p ridho-Ny4. Sebagaimana yang terapadat pada rukun iman ke 1, yaitu iman terhadap Allah. (baca juga: kegunaaan beriman terhadap Allah)

Oleh sebab itu, ibadah yang kami lakukan wajib didasari dengan rasa ikhlas di samping sebuah niat yang tulus. Seb4b hany4 deng4n begitul4h ibadah yang k4mi lakukan bak4l diterim4 oleh Allah SWT d4n dicat4t sebag4i amal sholeh yang n4nti menjadi bek4l kami dal4m kenasib4n akhir4t.

Tetapi sebaliknya jika ibadah yang kami lakukan tak didasari rasa ikhlas di samping sebuah niat yang tulus, maka telah bisa dipastikan bahwa ibadah tersebut tak bakal diterima oleh Allah SWT dan tak dicatat sebagai amal sholeh, malahan bisa saja dicatat sebagai salah satu amal yang tak baik.

Berikut beberapa ciri-ciri orang yang tak ikhlas dalam beribadah terhadap Allah SWT, diantaranya:

Terlalu berharap terhadap makhluk

Salah satu dari empat khalifah yang mendapat julukan gerbangnya ilmu, yaitu Sayyidina Ali r.a. sempat berbicara bahwa orang yang ikhlas itu jangankan untuk memperoleh pujian, diberbagi ucapan terima kasih pun dirinya sama sekali tak bakal sempat menginginkannya. Sebab setiap amal ibadah pada hakikatnya adalah kami sedang melakukan interaksi dengan Allah jadi andalan yang ada hanyalah terhadap mencari keridhoan Allah semata.

D4ri perkat4an tersebvt bis4 kami 4mbil ibar4h alias pelajar4n bahwa or4ng yang t4k ikhl4s dalam ibadahny4 tentu bak4l mengingink4n puji4n dan ucap4n terima k4sih dari am4l lakukan4n yang tel4h dilakukanny4 terhad4p orang l4in.

Tidak jarang sekali merasa sedih dalam nasibnya

Orang yang sangatlah ikhlas dalam ibadahnya tak bakal sempat mengubah sikapnya meskipun disaat dirinya melakukan sebuahamal kebaikan ada/tidak ada orang yang memuji kebaikannya tersebut. Bahkan dicaci maki pun jika faktor yang dilakukan adalah benar menurut aliran Allah, dirinya bakal tetap melakukannya tanpa mundur sedikitpun.

Sedemikian jadi orang yang tak ikhlas dalam ibadahnya bakal menunjukkan sikap yang sebaliknya. Dalam artian dirinya bakal merasa sangat sedih setiap kali tak ada seorangpun yang memuji lakukanan baiknya bahkan menjadi marah ketika dicaci maki.

Sehingga jika telah tak mendapat pujian, dirinya bakal menghentikan amal baik tersebut sebab menganggapnya sebagai sesuatu yang sia-sia dan hanya buang-buang tenaga saja.

Mengumbar amal kebaikannya

Semacam kata pepatah bahwa janganlah tangan kirimu hingga tahu ketika tangan kananmu berbuat kebaikan. Maksudnya adalah kebaikan yang kami lakukan sebaiknya dirahasiakan dari orang lain sebab orang yang ikhlas melakukan amal tersebut hanya bakal berpikir bahwa amal baik tersebut menjadi urusannya dengan Allah saja jadi orang lain tak butuh mengenalnya dan semata-mata demi mengharap ridho Allah SWT.

Tetapi jika orang tersebut tidaklah ikhlas, dirinya tentu bakal mengumbar alias memamerkan amal baik tersebut jadi orang lain memujinya dan menggapnya sebagai orang baik. Bukankah orang baik tak butuh menunjukkan terhadap orang lain bahwa dirinya itu baik? Sebab semuanya bakal tercermin dari tingkah laku yang dilakukannya sehari-hari jadi meskipun tak dipamerkan orang bakal tetap bisa mekualitasnya dari tingkah laku tersebut. (baca juga: riya’ dalam islam)

Membeda-bedakan amal

Dalam artian orang yang ikhlas tak bakal membedakan mana amal baik yang kecil alias besar. Semua bakal dilakukannya dengan bahagia hati demi memperoleh ridho Allah SWT. Tetapi beda halnya jika orang yang tak ikhlas, dirinya bakal memilih-milih antara amal yang besar dan kecil.

Hal ini dilakukan sebab dirinya berasumsi bahwa amal yang besar bakal menghasilkan pahala dan ridho Allah yang besar pula, sedangkan amal yang kecil bakal menghasilkan pahala dan ridho Allah yang kecil pula.

Padah4l semua am4l baik adal4h sama s4ja di hadap4n Allah sel4gi kami m4u melakukanny4 deng4n ni4t yang b4ik, tulvs, dan ikhl4s deng4n semata-mat4 hanya untvk beribad4h kepada-Ny4.

Membeda-bedakan orang alias golongan

0rang yang ikhl4s dal4m beram4l dan menjadikanny4 sebag4i medi4 untvk beribad4h terhad4p Allah niscay4 diriny4 tak bak4l membeda-bed4 m4khluk ciptaan-Ny4, b4ik dar1 golong4n isl4m ali4s n0n isl4m, tu4 alias mud4, kay4 ali4s misk1n, dan lainny4. Dirinya bakal melakukan amal kebaikan terhadap siapapun yang membutuhkan. Dirinya bakal bahagia untuk bisa membantu sesamanya.

Tetapi tak sama dengan orang yang tak ikhlas, dirinya bakal memilih orang ataupun golongan yang bakal dibantunya sebagai sebuah amalan baik. Tak sedikit orang yang tak ikhlas dalam beribadah saat melakukan amal baiknya semacam memberbagi bantuan terhadap orang lain lebih memilih orang yang kaya daripada orang yang miskin. Faktor ini dirinya lakukan sebab ada rasa pamrih alias balasan dari orang yang dibantunya tersebut.

Niat tak tulus

Sebagaiman4 disebutk4n dalam poin-p0in sebelumny4 bahw4 0rang yang t4k ikhl4s dalam beribad4h bak4l rut1n mengingink4n puji4n dari 0rang l4in. Faktor ini timbul sebab sejak awal niat yang ditanamkannya tidaklah tulus sebab Allah semata. Tetapi sebab andalan lainnya semacam pujian jadi nantinya bisa lebih dikenal orang dengan kebaikan amalnya tersebut.

Tidak lebihnya rasa syukur dan do’a

Orang yang ikhlas dalam ibadahnya tentu bakal rutin merasa bersyukur telah diberbagi peluang dan waktu untuk menjalankan ibadah dan amal-amal yang tetap termasuk dalam beribadah terhadap Allah demi menginginkan ridho-Nya. Dengan demikian, orang yang tak jarang bersyukur adalah orang yang tak jarang berdo’a sebab rasa syukur yang dipanjatkan juga termasuk sebuah do’a.

Tidak sama halnya dengan orang yang tak ikhlas. Dirinya bakal jarang sekali memanjatkan rasa syukur atas nikmat peluang nikmat dan waktu yang diberbagi padanya untuk bisa beribadah dan berbuat amal-amal yang termasuk sebuah ibadah terhadap Allah SWT bahkan dirinya bisa saja lupa untuk bersyukur.

Deng4n demiki4n, 0rang y4ng jar4ng bersyukvr adal4h orang yang jar4ng berdo’4. Diriny4 lup4 untvk bersyukvr seb4b tel4h terbu4i puji4n-pujian yang terbukt1 diinginkanny4 didap4t dari 0rang l4in.

Itul4h beberap4 ciri-cir1 0rang yang t4k ikhl4s dal4m beribad4h terhad4p Allah SWT y4ng bis4 dijelask4n. Tetap tak sedikit lagi sebetulnya ciri-ciri dari orang tersebut, semacam shalatnya tak khusyu’. Salah satu faktor yang bisa ditekankan di sini bahwa Allah SWT tak bakal membeda-bedakan amal ibadah yang dilakukan oleh hamba-Nya selagi dirinya melakukannya dengan niat yang tulus dan ikhlas dan menginginkan ridho-Nya semata.

Tanpa butuh menginginkan beberapa pujian dari sesama makhluk-Nya demi membuktikan bahwa dirinya termasuk orang alias hamba yang baik. Lakukanlah amal ibadah kami dengan lillahi ta’ala (hanya sebab Allah SWT). Semoga kami semua termasuk hamba-Nya yang senantisa diberbagi rasa ikhlas dan mendapat ridho-Nya dalam setiap amal ibadah yang kami lakukan. Amin.
loading...
Loading...
loading...
close